1.
Kejadian awal
Setelah proklamasi kemerdekaan. Para
pejuang semarang bertekad bulat untuk merebut kekuasaan dan senjata dari
jepang. Perundingan dalam rangka penyerahan senjata terjadi di asrama kido
butai jatingaleh antara utusan KNI. BKR dan AMRI dengan Jepang.
Pelaksanaan penyerahan senjataoleh
jepang ternyata tidak sesuai dengan hasilperundingan. Karena itu tindak
kekerasan adalah jalan terakhir yang harus ditempuh. Gelora semangat
perjuanganmenggema di seluruh pelosok kota. Akhirnya pecah menjadi pertempuran
yang berlangsung selama 5 hari mulai tanggal 15 – 19 Oktober 1945.
2. Peristiwa
Menghadapi
gelora semangat juang pemuda semarang untuk mempertahankan kemerdekaan.
Menyebabkan jepang diliputi rasa ketakutan.
Dari
pada diserang lebih baik menyerang. Dengan motto itupada tanggal 15 Oktober
1945 tentara jepang mulai bergerak dari asrama kido butai jatingaleh. Tujuannya
adalah merebut dan menguasai kota semarang.
Perlawanan pertama dilakukan oleh TKR
pimpinan Letnan Widarjo yang bertahan di kagok. Dalam pertempuran itu Letnan
Widarjo gugur bersama 30 orang anak buah nya.
Selanjutnya tentara jepang terus
bergerak. Sehingga terus terjadi pertempuran di kantor pos candi. Hotel Brussel
(sekarang Mapomdam IV/Diponegoro), Purusara (sekarang Rumah Sakit Dokter
Kariadi,) Bekas markas Kenpetai (sekarang Museum Mandala Bhakti), Gedung Lawang
Sewu dan Gubernuran.
Dalam
pertempuran yang berkecamuk hebat hari itu, Gubernur Wongsonegoro ditangkap dan
ditahan di Markas Kido Butai Jatingaleh. Disamping itu juga beberapa
tokoh-tokoh Semarang ditangkap.
Pertempuran
meluas ke arah barat dalam usaha jepang untuk merebut penjara bulu untuk
membebaskan rekannya yang ditahan disana.meluas pula ke pandanaran dan mugas
untuk merebut markas TKR di gedung Akubank sekarang. Dalam suasana pertempuran
itu dokter Kariadi gugur ketika ia akan memeriksa tendon air yang diberitakan
telah diracun Jepang.
Pertempuran makin meluas ke Depok,
Karang Tengah, Pendrikan, Bojong, Duwet dan Gendingan. Jepang berusaha keras untuk merebut hotel DU
PAVILLON (sekarang Hotel di BYA Puri) yang dipertahankan mati-matian oleh TKR
pimpinan Martadi.
Pertempuran
hebat berkobar di pasar Johar, Stasiun Tawang. Secara membabi buta jepang
membakar kampung Batik.
Gerakan tentara Jepang lainnya dihadang
oleh para pemua di Peterongan, Bangkong, Ambengan, Jurnatan, Mlatiharjo,
Jomblang, Lempongsari. Mereka bahu membahu dengan TKR dan Polisi menghadapi
keganasan tentara Jepang. Dalam pertempuran itu dari kedua belah pihak dan
rakyat jatuh korban kira-kira 2000 orang.
Untuk
membendung serbuan tentara Jepang itu, bantuan TKR dari daerah daerah mengalir
ke Semarang, yaitu antara lain dari Demak, Pati Kudus, Cepu, Purwodadi, Solo,
Jogyakarta, Salatiga, Magelang, Ambarawa, Kendal, Pekalongan.
Sebagian
pasukan bantuan tersebut telah memasuki kota dan terlibat langsung dalam
pertempuran.
Sebagian lagi masih berada di luar kota.
Pada
tanggal 19 Oktober 1945 pertempuran berakhir karena mendaratnya tentara sekutu
melucuti tentara Jepang.
3.
Para Pelaku (Antara Lain)
Fihak TNI
1. Wongsonegoro
2. Dokter
Kariadi
3. Letkol
Holan Iskandar
4. Letnam
Munadi
5. Letnam
Widarjo
6. Kolonel
Jati Kusumo
7. Kapten
Widodo
8. Mirza
Sidarta
9. Martadi
1. Bambang
Suprapto
1. Seno
Suharyo
Fihak
Jepang
1. Mayor
Kido
2. Mayor
Yogi
3. Kapten
Wada
4. Sersan
Tanaka
*sumber: MUSEUM MANDALA BHAKTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar