Sabtu, 26 Mei 2012

Pertempuran 5 hari di semarang




1. Kejadian awal
Setelah proklamasi kemerdekaan. Para pejuang semarang bertekad bulat untuk merebut kekuasaan dan senjata dari jepang. Perundingan dalam rangka penyerahan senjata terjadi di asrama kido butai jatingaleh antara utusan KNI. BKR dan AMRI dengan Jepang.
Pelaksanaan penyerahan senjataoleh jepang ternyata tidak sesuai dengan hasilperundingan. Karena itu tindak kekerasan adalah jalan terakhir yang harus ditempuh. Gelora semangat perjuanganmenggema di seluruh pelosok kota. Akhirnya pecah menjadi pertempuran yang berlangsung selama 5 hari mulai tanggal 15 – 19 Oktober 1945.

2. Peristiwa
Menghadapi gelora semangat juang pemuda semarang untuk mempertahankan kemerdekaan. Menyebabkan jepang diliputi rasa ketakutan.
Dari pada diserang lebih baik menyerang. Dengan motto itupada tanggal 15 Oktober 1945 tentara jepang mulai bergerak dari asrama kido butai jatingaleh. Tujuannya adalah merebut dan menguasai kota semarang.
         Perlawanan pertama dilakukan oleh TKR pimpinan Letnan Widarjo yang bertahan di kagok. Dalam pertempuran itu Letnan Widarjo gugur bersama 30 orang anak buah nya.
         Selanjutnya tentara jepang terus bergerak. Sehingga terus terjadi pertempuran di kantor pos candi. Hotel Brussel (sekarang Mapomdam IV/Diponegoro), Purusara (sekarang Rumah Sakit Dokter Kariadi,) Bekas markas Kenpetai (sekarang Museum Mandala Bhakti), Gedung Lawang Sewu dan Gubernuran.
         Dalam pertempuran yang berkecamuk hebat hari itu, Gubernur Wongsonegoro ditangkap dan ditahan di Markas Kido Butai Jatingaleh. Disamping itu juga beberapa tokoh-tokoh Semarang ditangkap. 
         Pertempuran meluas ke arah barat dalam usaha jepang untuk merebut penjara bulu untuk membebaskan rekannya yang ditahan disana.meluas pula ke pandanaran dan mugas untuk merebut markas TKR di gedung Akubank sekarang. Dalam suasana pertempuran itu dokter Kariadi gugur ketika ia akan memeriksa tendon air yang diberitakan telah diracun Jepang.
         Pertempuran makin meluas ke Depok, Karang Tengah, Pendrikan, Bojong, Duwet dan Gendingan.  Jepang berusaha keras untuk merebut hotel DU PAVILLON (sekarang Hotel di BYA Puri) yang dipertahankan mati-matian oleh TKR pimpinan Martadi.
Pertempuran hebat berkobar di pasar Johar, Stasiun Tawang. Secara membabi buta jepang membakar kampung Batik.
         Gerakan tentara Jepang lainnya dihadang oleh para pemua di Peterongan, Bangkong, Ambengan, Jurnatan, Mlatiharjo, Jomblang, Lempongsari. Mereka bahu membahu dengan TKR dan Polisi menghadapi keganasan tentara Jepang. Dalam pertempuran itu dari kedua belah pihak dan rakyat jatuh korban kira-kira 2000 orang.
Untuk membendung serbuan tentara Jepang itu, bantuan TKR dari daerah daerah mengalir ke Semarang, yaitu antara lain dari Demak, Pati Kudus, Cepu, Purwodadi, Solo, Jogyakarta, Salatiga, Magelang, Ambarawa, Kendal, Pekalongan.
         Sebagian pasukan bantuan tersebut telah memasuki kota dan terlibat langsung dalam pertempuran.
Sebagian lagi masih berada di luar kota.
         Pada tanggal 19 Oktober 1945 pertempuran berakhir karena mendaratnya tentara sekutu melucuti tentara Jepang.
3. Para Pelaku (Antara Lain)
Fihak TNI
1.           Wongsonegoro
2.           Dokter Kariadi
3.           Letkol Holan Iskandar
4.           Letnam Munadi
5.           Letnam Widarjo
6.           Kolonel Jati Kusumo
7.           Kapten Widodo
8.           Mirza Sidarta
9.           Martadi
1.           Bambang Suprapto
1.           Seno Suharyo
Fihak Jepang
1.          Mayor Kido
2.          Mayor Yogi
3.          Kapten Wada
4.          Sersan Tanaka




*sumber: MUSEUM MANDALA BHAKTI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar