A.
Kejadian
Awal
Politik konfrontasi pemerintah orde lama,
telah melahirkan berbagai-bagai sukarelawan Dwikora untuk menggayang apa yang
dinamakan proyek Nikolim Malaysia. Diantaranya adalah sukarelawan tempur
Dwikora. Dimana terdapat 850 orang Cina Serawak yang tergabung dalam Pasukan
Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU).
Mereka mempergunakan kesempatan itu untuk memperkuat posisi perjuangan komunis
dalam rangka mewujudkan Negara komunis Kalimantan Utara.
Kedudukan PGRS/PARAKU berada di Sempatung
kompleks, Songkong kompleks, Melancau kompleks dan di utara Benua Martinus
kompleks. Didaerah tersebut mereka berhasil membina wilayah karena sebagian
besar penduduk disana adalah para perantau Cina. Mereka yang berhasil dibina,
diberi latihan kemiliteran dan dipersenjatai.
B.
Peristiwa
Berakhirnya politik konfrontasi dalam
pemerintahan orde lama para sukarelawan yang tergabung dalam PGRS/PARAKU di
instruksikan agar mengumpulkan dan
menyerahkan senjatanya kembali. Tetapi instruksi tersebut tidak digubris bahkan
mereka melakukan pemberontakan.
Operasi
bersih yang dilancarkan oleh komando satuan tugas AAU berhasil melucuti
sebagian besar dari senjata itu. Tetapi ketika satgas itu pergi dari Kalimantan
barat. Mereka mengadakan konsulidasi kembali sehingga kekuatannya semakin
besar. Kekuatan itu bertambah lagi setelah meletusnya pemberontakan G 30 S/PKI,
dimana sebagian tokoh komunis Kalimantan barat berafiliasi dengan PGRS.
Dengan
ditariknya KO satgas Mandau ke induk pasukannya, operasi dilanjutkan oleh Kodam
XII/Tanjungpura. Operasi bersih I masih terbatas pada kekuatan organic kodam
XII. Dalam operasi bersih II diperkuat oleh pasukan lari daerah lain. Dari
kodam VII/Diponegoro yang telah bertugas menumpas PGRS antara lain Yonif 406
yang dipimpin oleh Mayor Abdullah.
C.
Para
Pelaku (Antara Lain)
Dari Kodam VII/Diponegoro
1. Mayor
Abdullah
2. Lettu
Rony Pesik
3. Lettu
Tony Sutrisno
4. Lettu
Budi Harsono
sumber: MUSEUM MANDALA BHAKTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar