Selasa, 19 Juni 2012

Dwikora



A.                  Kejadian Awal
Pada tahun 1961 timbul perselisihan antara Indonesia dengan Malaysia, perselisihan karena penggabungan beberapa daerah bekas jajahan Inggris di Asia Tenggara seperti Malaya, Sabah dan Serawak menjadi Malaysia.
                Politik Konfrontasi yang di anut pemerintah orde lama menyebabkan Indonesia menganggap Malaysia adalah sebagai proyek Nekolim yang pembentukannya dipaksakan oleh Inggris guna mempertahankan kepentingannya di Asia Tenggara.
                Pada tanggal 16 September 1963 terjadilah proklamasi pembentukkan federasi Malaysia. Keesokkan harinya pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatic dengan Malaysia.

B.                  Peristiwa
                Di Malaysia sendiri sebagian partai politik menentang pembentukan federasi. Bahkan pada tanggal 8 Desember 1963 , A.M. Azhari pemimpin rakyat dipengasingan memproklamasikan berdirinya Negara kesatuan Kalimantan Utara (NKKU) yang meliputi Sabah, Serawak dan Brunai.
                Pemerintah Indonesia menyokong proklamasi dari A.M. Azhari pada tanggal 3 Mei 1964 Presiden Sukarno mencanangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya
a.       Perhebat Pertahanan Republik Indonesia
b.      Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya, Singapura, Sabah, Serawak, Brunai untuk membubarkan Negara boneka Malaysia
Pada tanggal 20 Mei 1964 diresmikan pembentukkan brigade sukarelawan tempur Dwikora yang dipimpin oleh Kolonel Sabirin Mukhtar. Pada tingkat pusat dibentuk Koti, sedangkan untuk Indonesia bagian barat dibentuk Komando Siaga.
                Dengan meningkatnya operasi militer, komando Siaga disempurnakan menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga) yang membawahi Komando Mandala I dan II. Pasukannya terdiri dari beberapa kesatuan yang terdapat dalam TNI-ABRI. Diantaranya adalah Brigif 5 Kodam VII / Diponegoro yang dipimpin oleh colonel Sujono. Kekuatannya 3.050 orang bertugas di Kalimantan barat dalam rangka operasi perbatasan. Pada bulan Maret 1965 kekuatan tersebut ditambah lagi dengan Batalyon yang dipimpin oleh Mayor B.Yudo Darmojo. Sedangkan Brigif 4 dibawah pimpinan colonel Yasir Hadibroto ditempatkan di Sumatera Utara.
                Sementara itu di Ibukota Jakarta terjadi Pemberontakan G 30 S/PKI pada tanggal 1 Oktober 1965.
Setelah pemberontakan tersebut dapat ditumpas oleh TNI ABRI. Maka lahirlah orde baru.
                Pada masa pemerintahan orde baru politik konfrontasi ditinjau kembali. Sesuai dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, maka di mulai lah kontak-kontak diplomatic untuk memulihkan hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia.
                Pada tanggal 11 Agustus 1966 di Jakarta ditanda tangani naskah persetujuan pemulihan hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia. Dengan demikian konfrontasi terhadap Malaysia selesai dan berakhirlah Dwikora.

C.                  Para Pelaku (Antara Lain)
Dari Kodam VII/Diponegoro
1.       Kolonel Yasir Hadibroto
2.       Kolonel Sujono
3.       Mayor B.Yudo Darmojo


*sumber: MUSEUM MANDALA BHAKTI

2 komentar: