A.
Kejadian
Awal
Pada tahun 1961 timbul perselisihan antara
Indonesia dengan Malaysia, perselisihan karena penggabungan beberapa daerah
bekas jajahan Inggris di Asia Tenggara seperti Malaya, Sabah dan Serawak
menjadi Malaysia.
Politik
Konfrontasi yang di anut pemerintah orde lama menyebabkan Indonesia menganggap
Malaysia adalah sebagai proyek Nekolim yang pembentukannya dipaksakan oleh
Inggris guna mempertahankan kepentingannya di Asia Tenggara.
Pada
tanggal 16 September 1963 terjadilah proklamasi pembentukkan federasi Malaysia.
Keesokkan harinya pemerintah Indonesia memutuskan hubungan diplomatic dengan
Malaysia.
B.
Peristiwa
Di
Malaysia sendiri sebagian partai politik menentang pembentukan federasi. Bahkan
pada tanggal 8 Desember 1963 , A.M. Azhari pemimpin rakyat dipengasingan
memproklamasikan berdirinya Negara kesatuan Kalimantan Utara (NKKU) yang
meliputi Sabah, Serawak dan Brunai.
Pemerintah
Indonesia menyokong proklamasi dari A.M. Azhari pada tanggal 3 Mei 1964
Presiden Sukarno mencanangkan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) yang isinya
a.
Perhebat Pertahanan Republik Indonesia
b.
Bantu perjuangan revolusioner rakyat Malaya,
Singapura, Sabah, Serawak, Brunai untuk membubarkan Negara boneka Malaysia
Pada tanggal 20 Mei
1964 diresmikan pembentukkan brigade sukarelawan tempur Dwikora yang dipimpin
oleh Kolonel Sabirin Mukhtar. Pada tingkat pusat dibentuk Koti, sedangkan untuk
Indonesia bagian barat dibentuk Komando Siaga.
Dengan meningkatnya operasi
militer, komando Siaga disempurnakan menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga)
yang membawahi Komando Mandala I dan II. Pasukannya terdiri dari beberapa
kesatuan yang terdapat dalam TNI-ABRI. Diantaranya adalah Brigif 5 Kodam VII /
Diponegoro yang dipimpin oleh colonel Sujono. Kekuatannya 3.050 orang bertugas
di Kalimantan barat dalam rangka operasi perbatasan. Pada bulan Maret 1965
kekuatan tersebut ditambah lagi dengan Batalyon yang dipimpin oleh Mayor B.Yudo
Darmojo. Sedangkan Brigif 4 dibawah pimpinan colonel Yasir Hadibroto
ditempatkan di Sumatera Utara.
Sementara itu di Ibukota Jakarta
terjadi Pemberontakan G 30 S/PKI pada tanggal 1 Oktober 1965.
Setelah
pemberontakan tersebut dapat ditumpas oleh TNI ABRI. Maka lahirlah orde baru.
Pada masa pemerintahan orde baru
politik konfrontasi ditinjau kembali. Sesuai dengan politik luar negeri
Indonesia yang bebas aktif, maka di mulai lah kontak-kontak diplomatic untuk
memulihkan hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia.
Pada tanggal 11 Agustus 1966 di
Jakarta ditanda tangani naskah persetujuan pemulihan hubungan baik antara
Indonesia dan Malaysia. Dengan demikian konfrontasi terhadap Malaysia selesai
dan berakhirlah Dwikora.
C.
Para
Pelaku (Antara Lain)
Dari Kodam VII/Diponegoro
1.
Kolonel Yasir Hadibroto
2.
Kolonel Sujono
3.
Mayor B.Yudo Darmojo
Thx buat infonya ya... mbak Rossa :)
BalasHapussama sama :D
BalasHapus