A.
Kejadian Awal
Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia
oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949 adalah seluruh daerah Hindia Belanda
kecuali Irian Barat. Kenyataan itu tidak sesuai dengan UUD 1945 yang menyatakan
bahwa luas daerah RI meliputi seluruh daerah bekas Hindia Belanda dari sabang
sampai Merauke. Dengan demikian Irian Barat (Sekarang Irian Jaya) yang masih
dikuasai Belanda menjadi daerah sengketa.
Dalam rangka menyelesaikan Irian Jaya,
sejak tahun 1950 pemerintah Indonesia telah menempuh jalan damai yaitu
melakukan perundingan dengan belanda, tetapi selalu mengalami kegagalan. Bahkan
Irian Jaya dijadikan sebagai bagian dari kerajaan Belanda. Jadi berarti bahwa
Irian Jaya adalah masalah dalam negerinya sendiri.
Indonesia membalas tindakan itu dengan
menghapus misi militer Belanda. Kemudian memutuskan hubungan UNI Indonesia –
Belanda.
B.
Peristiwa
Buntunya jalan damai menyebabkan Indonesia
menempuh jalan konfrontasi. Pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta
Presiden Sukarno mencanangkan Tri Komando Rakyat (Trikora). Isinya adalah :
1.
Gagalkan pembentukan Negara Papua bikinan
Kolonial Belanda
2.
Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat
3.
Bersiaplah untuk mobilisasi umum
Untuk melaksanakan Trikora, dibentuk
Komando Mandala. Sebagai panglima adalah MayJen TNI Suharto. Pada tahap pertama
komando Mandala melaksanakan frase Infiltrasi melalui laut dan udara. Dalam
fase ini dimasukkan sebanyak 10 kompi inti TNI ABRI untuk mengembangkan
penguasaan wilayah. Dari Kodam VII / Diponegoro disiapkan Yon 454/BR. Pada
bulan Mei 1962 sebanyak 2 kompi. Yaitu kompi yang dipimpin oleh Kapten Kartawi
diterjunkan di Fak-Fak, dan kompi yang dipimpin oleh Lettu Idrus diterjunkan di
Kaimana. Dalam pertempuran yang terjadi dengan tentara Belanda, Lettu Idrus
gugur. Disamping itu banyak pula yang gugur menghadapi ganasnya alam Irian
Jaya. Sisa dari Yon 454 diterjunkan di Kaimana pada tanggal 14 Agustus 1962.
Setelah fase Infiltrasi selesai baru dilaksanakan
serangan terbuka secara besar-besaran dengan nama Operasi Jaya Wijaya. Operasi
Jaya Wijaya tidak jadi dilaksanakan karena di forum PBB telah tercapai
persetujuan antara Indonesia dengan Belanda. Pada tanggal 16 Agustus 1962
Presiden/Pangti ABRI memerintahkan untuk menghentikan tembak menembak. Perintah
itu diteruskan oleh pangima Mandala kepada seluruh pasukan yang sudah berada di
daerah Irian Jaya.
Setelah
melalui suatu proses pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Jaya kembali ke dalam
wilayah Republik Indonesia.
C.
Pelaku dari Kodam VII/Diponegoro (Antara Lain)
1. Mayor
Untung
2. Kapten
Kartawi
3. Lettu
Idrus
4. Capa
Eko Dahono
sumber : MUSEUM MANDALA BHAKTI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar