Kamis, 21 Juni 2012

Trikora



A.                  Kejadian Awal
Pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda pada tanggal 27 Desember 1949 adalah seluruh daerah Hindia Belanda kecuali Irian Barat. Kenyataan itu tidak sesuai dengan UUD 1945 yang menyatakan bahwa luas daerah RI meliputi seluruh daerah bekas Hindia Belanda dari sabang sampai Merauke. Dengan demikian Irian Barat (Sekarang Irian Jaya) yang masih dikuasai Belanda menjadi daerah sengketa.
Dalam rangka menyelesaikan Irian Jaya, sejak tahun 1950 pemerintah Indonesia telah menempuh jalan damai yaitu melakukan perundingan dengan belanda, tetapi selalu mengalami kegagalan. Bahkan Irian Jaya dijadikan sebagai bagian dari kerajaan Belanda. Jadi berarti bahwa Irian Jaya adalah masalah dalam negerinya sendiri.
Indonesia membalas tindakan itu dengan menghapus misi militer Belanda. Kemudian memutuskan hubungan UNI Indonesia – Belanda.
B.                  Peristiwa
Buntunya jalan damai menyebabkan Indonesia menempuh jalan konfrontasi. Pada tanggal 19 Desember 1961 di Yogyakarta Presiden Sukarno mencanangkan Tri Komando Rakyat (Trikora). Isinya adalah :
1.       Gagalkan pembentukan Negara Papua bikinan Kolonial Belanda
2.       Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat
3.       Bersiaplah untuk mobilisasi umum

Untuk melaksanakan Trikora, dibentuk Komando Mandala. Sebagai panglima adalah MayJen TNI Suharto. Pada tahap pertama komando Mandala melaksanakan frase Infiltrasi melalui laut dan udara. Dalam fase ini dimasukkan sebanyak 10 kompi inti TNI ABRI untuk mengembangkan penguasaan wilayah. Dari Kodam VII / Diponegoro disiapkan Yon 454/BR. Pada bulan Mei 1962 sebanyak 2 kompi. Yaitu kompi yang dipimpin oleh Kapten Kartawi diterjunkan di Fak-Fak, dan kompi yang dipimpin oleh Lettu Idrus diterjunkan di Kaimana. Dalam pertempuran yang terjadi dengan tentara Belanda, Lettu Idrus gugur. Disamping itu banyak pula yang gugur menghadapi ganasnya alam Irian Jaya. Sisa dari Yon 454 diterjunkan di Kaimana pada tanggal 14 Agustus 1962.
Setelah fase Infiltrasi selesai baru dilaksanakan serangan terbuka secara besar-besaran dengan nama Operasi Jaya Wijaya. Operasi Jaya Wijaya tidak jadi dilaksanakan karena di forum PBB telah tercapai persetujuan antara Indonesia dengan Belanda. Pada tanggal 16 Agustus 1962 Presiden/Pangti ABRI memerintahkan untuk menghentikan tembak menembak. Perintah itu diteruskan oleh pangima Mandala kepada seluruh pasukan yang sudah berada di daerah Irian Jaya.
                Setelah melalui suatu proses pada tanggal 1 Mei 1963 Irian Jaya kembali ke dalam wilayah Republik Indonesia.
C.                  Pelaku dari Kodam VII/Diponegoro (Antara Lain)
1.       Mayor Untung
2.       Kapten Kartawi
3.       Lettu Idrus
4.       Capa Eko Dahono

sumber : MUSEUM MANDALA BHAKTI


Tidak ada komentar:

Posting Komentar